THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Jumat, 24 April 2009

idola cilik dan punahnya lagu anak-anak

Paton dan Debo tampil untuk kali terakhir untuk membuktikan siapa di antara mereka berdua yang pantas menjadi Raja Idola Cilik 2. Dan sekali lagi penampilan spektakuler para finalis ini membersitkan pemikiran di benak saya dengan judul Punahnya Lagu Anak-Anak.

Praktis, semua peserta Idola Cilik melantunkan lagu-lagu hits yang sebenarnya target marketnya adalah remaja ke atas. Mereka menyanyikan lagu-lagu Seventeen, ST 12 dan Peterpan dengan sangat baik nyaris tanpa cacat cela. Tapi apa nggak kasihan kalau mereka disuruh menghayati, menjiwai, dan mengekspresikan apa yang belum pernah mereka ketahui rasanya?

Apa yang harus aku tunjukkan
untuk membuat kau menyayangiku?
Inilah aku yang memilih kau untukku…

Untuk Mencintaimu - Seventeen

Saya sempat berpikir tadi, apa faktor yang membuat lagu anak-anak itu punah. Dan pikiran saya lagi-lagi mengkambinghitamkan sinetron sebagai biang keroknya. Entah mulai kapan, sinetron hampir selalu menggunakan nama tokoh utama sebagai judul dan mencomot single yang sedang hits sebagai sound track. Tidak ada lagi karya-karya “apik” ala Chossy Pratama di Tersanjung — sinetron terakhir yang mewakili era sinetron klasik bernama Tersanjung dan Noktah Merah Perkawinan.

Lha, sinetron kan selalu ditayangkan di jam prime time di mana seluruh keluarga sedang berkumpul dan menonton televisi. Tampaknya sinetron sudah terlalu menyihir ibu-ibu untuk tidak bisa lepas darinya. Sebut saja Alisa, Muslimah, Abi, pasti mereka akrab dengan nama-nama ini.

Efeknya? Berapa banyak keluarga yang mematikan televisi di jam tersebut untuk memberikan kesempatan anaknya untuk belajar? Akhirnya si anak belajarnya tidak fokus dan ikut menonton sinetron. Tanpa disadari, lagu-lagu soundtrack sinetron tersebut juga diakrabi anak-anak.

Dengan industri musik anak-anak yang semakin lesu — karena pembajakan dan kualitas yang semakin tidak jelas, mau tidak mau segala kondisi itu membuat musik dewasa juga merangsek masuk ke pasar musi anak-anak yang kosong. Karena musik dewasa sekarang juga sederhana — mengikuti tren gaya Peterpan dan Ungu, musik itu mudah diterima di telinga anak-anak. Lain kalau karya musik dewasa masih serumit karya-karya Fariz RM, Ebiet G Ade, God Bless, Chrisye, atau Emerald di jalur jazz, mungkin agak lebih susah dicerna anak-anak.

0 komentar: