Pariwisata Indonesia semakin terpuruk sejak kasus Bom Bali yang kedua tahun 2005 silam. Jika dibandingkan dengan Thailand, Singapore, Malaysia serta negara lainnya di kawasan Asia Tenggara, pariwisata Indonesia lebih sulit untuk segara pulih ke posisi sebelum Bom Bali satu. Banyak faktor yang menjadi kendala misalnya masih berpotensi terjadinya tsunami dan masih menjadi incaran terorisme. Keengganan wisata internasional untuk datang ke Indonesia termasuk Bali masih terlihat.
Selain kedua faktor di atas masalah lain yang menghambat perkembangan pariwisata Indonesia adalah stabilitas keamanan yang belum pulih benar, keadaan politik dan juga transportasi udara yang mengangkut wisatawan dari negara asalnya. Banyak penerbangan internasional mengurangi jumlah penerbangannya ke Indonesia. Sebagai contoh perusahaan penerbangan nasional Australia, Qantas belum menambah kwantitas penerbangannya ke Indonesia termasuk Bali.
Permasalahan lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah promosi pariwisata yang kurang proaktif dan terus menerus untuk menyakinkan calon wisatawan bahwa Indonesia masih layak dan aman untuk dijadikan daerah tujuan wisata. Public relation dan pemasaran ini menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk pemerintah yang mengurus departemen kepariwisataan dan juga peran serta dari semua industri pariwisata itu sendiri.
Jika kita bandingkan dengan Thailand, Singapore, Vietnam dan Malaysia, iklan promosi pariwisata yang dilakukan oleh Indonesia masih jauh lebih sedikit. Sementara destinasi dan obyek wisata yang dimiliki Indonesia boleh dibilang tidak kalah menarik dengan negara tetangga.
Thailand sendiri menampilkan Amazing Thailand sebagai branding promotion, Malaysia dengan Truly Asia. Bagaimana dengan negara Indonesia tercinta ini ?
Jika kita mau belajar dari pengalaman sebelumnya, mungkin kita tetap memakai Bali sebagai ikon pariwisata Indonesia karena Pulau Seribu Pura ini memiliki beberapa keunikan tersendiri dari segi budaya dan kesenian masyarakatnya. Bila Bali dijadikan model pariwisata Indonesia, maka pariwisata Indonesia akan bangkit lagi dan wisatawan manca negara pun akan beralih ke Indonesia.
Selain kedua faktor di atas masalah lain yang menghambat perkembangan pariwisata Indonesia adalah stabilitas keamanan yang belum pulih benar, keadaan politik dan juga transportasi udara yang mengangkut wisatawan dari negara asalnya. Banyak penerbangan internasional mengurangi jumlah penerbangannya ke Indonesia. Sebagai contoh perusahaan penerbangan nasional Australia, Qantas belum menambah kwantitas penerbangannya ke Indonesia termasuk Bali.
Permasalahan lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah promosi pariwisata yang kurang proaktif dan terus menerus untuk menyakinkan calon wisatawan bahwa Indonesia masih layak dan aman untuk dijadikan daerah tujuan wisata. Public relation dan pemasaran ini menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk pemerintah yang mengurus departemen kepariwisataan dan juga peran serta dari semua industri pariwisata itu sendiri.
Jika kita bandingkan dengan Thailand, Singapore, Vietnam dan Malaysia, iklan promosi pariwisata yang dilakukan oleh Indonesia masih jauh lebih sedikit. Sementara destinasi dan obyek wisata yang dimiliki Indonesia boleh dibilang tidak kalah menarik dengan negara tetangga.
Thailand sendiri menampilkan Amazing Thailand sebagai branding promotion, Malaysia dengan Truly Asia. Bagaimana dengan negara Indonesia tercinta ini ?
Jika kita mau belajar dari pengalaman sebelumnya, mungkin kita tetap memakai Bali sebagai ikon pariwisata Indonesia karena Pulau Seribu Pura ini memiliki beberapa keunikan tersendiri dari segi budaya dan kesenian masyarakatnya. Bila Bali dijadikan model pariwisata Indonesia, maka pariwisata Indonesia akan bangkit lagi dan wisatawan manca negara pun akan beralih ke Indonesia.

0 komentar:
Posting Komentar