Jumat, 24 April 2009
Diposting oleh persahabatan di 03.06 0 komentar
idola cilik dan punahnya lagu anak-anak
Praktis, semua peserta Idola Cilik melantunkan lagu-lagu hits yang sebenarnya target marketnya adalah remaja ke atas. Mereka menyanyikan lagu-lagu Seventeen, ST 12 dan Peterpan dengan sangat baik nyaris tanpa cacat cela. Tapi apa nggak kasihan kalau mereka disuruh menghayati, menjiwai, dan mengekspresikan apa yang belum pernah mereka ketahui rasanya?
Apa yang harus aku tunjukkan
untuk membuat kau menyayangiku?
Inilah aku yang memilih kau untukku…Untuk Mencintaimu - Seventeen
Saya sempat berpikir tadi, apa faktor yang membuat lagu anak-anak itu punah. Dan pikiran saya lagi-lagi mengkambinghitamkan sinetron sebagai biang keroknya. Entah mulai kapan, sinetron hampir selalu menggunakan nama tokoh utama sebagai judul dan mencomot single yang sedang hits sebagai sound track. Tidak ada lagi karya-karya “apik” ala Chossy Pratama di Tersanjung — sinetron terakhir yang mewakili era sinetron klasik bernama Tersanjung dan Noktah Merah Perkawinan.
Lha, sinetron kan selalu ditayangkan di jam prime time di mana seluruh keluarga sedang berkumpul dan menonton televisi. Tampaknya sinetron sudah terlalu menyihir ibu-ibu untuk tidak bisa lepas darinya. Sebut saja Alisa, Muslimah, Abi, pasti mereka akrab dengan nama-nama ini.
Efeknya? Berapa banyak keluarga yang mematikan televisi di jam tersebut untuk memberikan kesempatan anaknya untuk belajar? Akhirnya si anak belajarnya tidak fokus dan ikut menonton sinetron. Tanpa disadari, lagu-lagu soundtrack sinetron tersebut juga diakrabi anak-anak.
Dengan industri musik anak-anak yang semakin lesu — karena pembajakan dan kualitas yang semakin tidak jelas, mau tidak mau segala kondisi itu membuat musik dewasa juga merangsek masuk ke pasar musi anak-anak yang kosong. Karena musik dewasa sekarang juga sederhana — mengikuti tren gaya Peterpan dan Ungu, musik itu mudah diterima di telinga anak-anak. Lain kalau karya musik dewasa masih serumit karya-karya Fariz RM, Ebiet G Ade, God Bless, Chrisye, atau Emerald di jalur jazz, mungkin agak lebih susah dicerna anak-anak.
Diposting oleh persahabatan di 02.39 0 komentar
Pariwisata Indonesia dan Bali
Selain kedua faktor di atas masalah lain yang menghambat perkembangan pariwisata Indonesia adalah stabilitas keamanan yang belum pulih benar, keadaan politik dan juga transportasi udara yang mengangkut wisatawan dari negara asalnya. Banyak penerbangan internasional mengurangi jumlah penerbangannya ke Indonesia. Sebagai contoh perusahaan penerbangan nasional Australia, Qantas belum menambah kwantitas penerbangannya ke Indonesia termasuk Bali.
Permasalahan lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah promosi pariwisata yang kurang proaktif dan terus menerus untuk menyakinkan calon wisatawan bahwa Indonesia masih layak dan aman untuk dijadikan daerah tujuan wisata. Public relation dan pemasaran ini menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk pemerintah yang mengurus departemen kepariwisataan dan juga peran serta dari semua industri pariwisata itu sendiri.
Jika kita bandingkan dengan Thailand, Singapore, Vietnam dan Malaysia, iklan promosi pariwisata yang dilakukan oleh Indonesia masih jauh lebih sedikit. Sementara destinasi dan obyek wisata yang dimiliki Indonesia boleh dibilang tidak kalah menarik dengan negara tetangga.
Thailand sendiri menampilkan Amazing Thailand sebagai branding promotion, Malaysia dengan Truly Asia. Bagaimana dengan negara Indonesia tercinta ini ?
Jika kita mau belajar dari pengalaman sebelumnya, mungkin kita tetap memakai Bali sebagai ikon pariwisata Indonesia karena Pulau Seribu Pura ini memiliki beberapa keunikan tersendiri dari segi budaya dan kesenian masyarakatnya. Bila Bali dijadikan model pariwisata Indonesia, maka pariwisata Indonesia akan bangkit lagi dan wisatawan manca negara pun akan beralih ke Indonesia.
Diposting oleh persahabatan di 02.34 0 komentar




